BI, Inflasi, dan Pangan


Post by Diskominfo(Drs. AKRAL, MM) | Posted on 23 Maret 2017 19:48:47 WIB | Berita Terkini | 1288 kali dibaca


           Pada 17 Maret 2017 lalu saya menghadiri acara panen cabai di Payakumbuh. Saya agak terkejut melihat sosok yang sehari-hari mengurusi masalah moneter juga turut hadir yaitu Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar Bpk. Puji Atmoko. Di samping itu juga hadir jajaran Pemko Payakumbuh seperti Wali Kota Payakumbuh Bpk. Riza Falepi beserta staf, Pimpinan DPRD Payakumbuh dan Forkompimda Payakumbuh. Kehadiran Kepala Perwakilan BI bagi saya cukup menarik. Karena selama ini biasanya BI terkonsentrasi dalam urusan moneter yang lebih cenderung kepada sektor keuangan, seperti pengendalian inflasi.

           Sementara urusan sektor riil baru digawangi oleh pihak eksekutif yaitu jajaran pemerintah, dari pusat hingga daerah. BI ternyata kini juga turut berperan aktif di sektor riil, di antaranya dengan memberdayakan sumberdaya manusia (SDM) petani dengan anggaran yang dimiliki BI. Salah satu yang bisa dilihat adalah seperti di Payakumbuh. Di sini telah dilakukan pembinaan beberapa kelompok tani untuk menghasilkan panen hortikultura yang berkualitas dengan jumlah yang memuaskan pula. Kelompok tani ini difasilitasi oleh BI termasuk melakukan studi banding ke Garut untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih baik lagi, seperti pengetahuan tentang benih yang bagus dan cara tanam yang baik. Selain di Payakumbuh, BI juga melakukan pembinaan kepada petani bawang di Sungai Nanam Kab. Solok dan juga merambah ke sektor peternakan di Kinali dan Padang Panjang.

           Apa yang dilakukan BI ini juga turut didukung oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kementerian Pertanian. BI bersama Dinas Pertanian dan BPTP bersama-sama membina petani di Payakumbuh untuk menghasilkan produk hortikultura berkualitas dan hasil panen yang memuaskan seperti cabai, timun dan bawang. Alhamdulillah, saya lihat dukungan BI ini memunculkan dampak positif bagi petani. BI kini telah aktif berperan dalam mendukung ketahanan pangan. Hal yang tak kalah pentingnya dengan pengendalian inflasi. Selama ini dalam TPID (Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah), BI selalu berada di depan berusaha bersama-sama mengendalikan inflasi. Masuknya BI ke sektor riil yang strategis yaitu ketahanan pangan juga langsung masuk ke jantung permasalahan, yaitu SDM petani. Masalah SDM petani ini juga sudah sering saya sampaikan di berbagai forum dan acara terkait. Penting disadari bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan petani tidak melulu dikaitkan dengan persoalan lahan, irigasi, benih, pupuk dan pascapanen.

           Tapi yang paling penting sebenarnya adalah pola pikir atau mind set dari petani itu sendiri. Para petani melakukan kerja mereka selama ini umumnya mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh orangtua mereka atau para pendahulunya. Karena hanya secara turun temurun maka hasil yang diperoleh tidak maksimal untuk saat sekarang, meskipun pada waktu lampau mungkin dengan pengetahuan pada masa itu sudah bisa mendapatkan hasil yang baik. Hal ini lantaran belum diterimanya dengan baik berbagai teknologi pertanian yang sudah dihasilkan oleh lembaga terkait. Jika pada masa lampau dengan pengetahuan yang ada bisa didapat 4 ton padi per hektar misalnya, maka pengetahuan yang turun ke petani saat ini tanpa diikuti dengan teknologi pertanian baru, hasilnya pun tetap 4 ton. Padahal sangat mungkin hari ini satu hektar bisa menghasilkan 8 ton padi. BI mencoba melakukan perubahan pola pikir petani dengan memberikan pengetahuan yang terbaru agar dapat menghasilkan panen yang berkualitas dan juga berlimpah.

            Sehingga jika orangtuanya memberikan pengetahuan untuk panen 4 ton, maka dengan cara terbaik (best practice) bisa menghasilkan 8 hingga 10 ton. BI juga mengadakan sekolah lapangan yang dibantu oleh para penyuluh untuk mengubah pola pikir petani menjadi lebih maju dalam hal cara menaman, memilih benih dan lainnya. Sulitnya mengubah pola pikir petani karena mereka masih sulit menerima hal seperti berikut, bahwa ilmu pengetahuan dan hasil kajian menyimpulkan bahwa padi tanam sebatang bisa lebih banyak menghasilkan dibanding padi tanam serumpun. Mereka berpikir serumpun saja banyak apalagi sebatang. Padahal justru dengan hanya sebatang itu memberikan ruang gerak bagi padi untuk bertumbuh lebih pesat dibanding serumpun. Demikian pula mengajak menjarakkan tanam padi 20-25 cm (jajar legowo) yang hasilnya bisa lebih banyak, masih dianggap kurang menguntungkan dibanding menanam dengan jarak 10 cm. Dalam pikiran petani, jika jarak 20 cm bisa mendapatkan hasil kurang (karena jadi sedikit benih yang ditanam) apalagi dibandingkan 10 cm. Padahal salah satu hasil kajian menunjukkan bahwa dengan jarak yang lebih lebar sinar matahari bisa menyinari padi lebih baik lagi.

            Tentu banyak cara pikir petani lainnya yang juga perlu diperbaiki. Saya mengapresiasi langkah BI ini yang langsung masuk ke jantung masalah pertanian yaitu SDM petani. Mudah-mudahan langkah BI ini untuk mengubah pola pikir petani bisa berjalan baik sehingga petani bisa mengubah pola pikir mereka dan menerima berbagai hasil kajian baru yang sudah didapat melalui berbagai penelitian dan pengamatan para ahli pertanian. Insya Allah, upaya BI ini akan memberikan dampak signifikan kepada ketahanan pangan, dan dalam jangka panjang juga berdampak kepada stabilitas inflasi yang lebih terkendali

BI, Inflasi, dan Pangan Oleh Irwan Prayitno Harian Singgalang, 23 Maret 2017


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh