Generasi Milenial dan Lapangan Kerja


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 08 Desember 2017 05:47:43 WIB | Artikel | 47 kali dibaca


Generasi Milenial dan Lapangan Kerja

Harian Bisnis Indonesia edisi 5 Desember dalam salah satu beritanya berjudul “Penciptaan Lapangan Kerja: Generasi Milenial yang Terdisrupsi” merilis hasil survei CSIS yang berjudul “Ada Apa dengan Milenial? Orientasi Sosial Ekonomi dan Politik” yang dirilis pada bulan November 2017. Survey tersebut melibatkan 1.000 responden dan dilakukan di 34 provinsi.

Generasi milenial Indonesia yang berusia 17-29 tahun kesulitan mendapatkan atau mengakses lapangan kerja. Dan ternyata ini adalah masalah tertinggi atau utama menurut generasi milenial dari hasil survey. Dan masalah utama tersebut menyingkarkan masalah lainnya yaitu harga sembako yang tinggi, kemiskinan, biaya kesehatan.

Di berita tersebut juga disampaikan bahwa banyak generasi milenial yang belum punya pekerjaan, dan jika punya pekerjaan sulit berpindah tempat kerja karena situasi ekonomi yang tidak kondusif.   

Jika generasi milenial merasa mereka sulit mendapatkan akses ke lapangan kerja, maka dari sisi pengusaha ternyata tidak dinafikan adanya disruspi teknologi yang menyebabkan menguatnya efisiensi. Pengusaha juga tidak berani merekrut tenaga kerja pada saat ini secara ekspansif. Dan UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dianggap kaku dan terlalu berpihak kepada pekerja sehingga menyulitkan munculnya lapangan pekerjaan. Hal demikian menyebabkan lapangan pekerjaan sepertinya kian sempit atau mengecil.

Sementara itu komposisi tenaga kerja di Indonesia yang dirilis BPS pada Februari 2017 adalah, 60,39 persen tamat pendidikan rendah, 27,35 persen tamat pendidikan menengah, dan 12,26 persen tamat pendidikan tinggi. Dan berdasarkan laporan yang dirilis McKinsey & Co pada 29/11 ada 800 juta pekerja di seluruh dunia yang berpotensi kehilangan pekerjaan di 2030. Jumlah ini setara dengan 20 persen angkatan kerja global saat ini.

Sementara itu lahirnya banyak perusahaan rintisan atau start up yang menggunakan teknologi terkini dianggap mengganggu usaha atau bisnis konvensional sehingga juga turut menyumbang rendahnya peluang lapangan kerja.

Jika sejenak kita melihat dari sisi agama, yang sebenarnya tidak terpisah dengan kehidupan nyata, masalah pekerjaan atau lapangan kerja ini bukanlah sebuah ancaman atau bahaya jika belum mendapatkan pekerjaan. Karena dalam perspektif Islam semua makhluk hidup sudah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Dan untuk mendapatkan rezeki itu setiap makhluk hidup harus berusaha sekuat tenaga.

Bagi manusia, yang merupakan makhluk ciptaan terbaik, banyak cara bisa dilakukan untuk mendapatkan rezeki dari Allah SWT, karena manusia diberikan akal dan pikiran. Lebih hebat dibanding hewan dan tumbuhan. Namun hewan dan tumbuhan jauh lebih patuh kepada Allah SWT maka manusia melihat seolah-olah rezekinya lebih terjamin dibanding manusia. Dan manusia tidak merasa bersalah ketika merusak alam tempat hidup hewan dan tumbuhan yang menyebabkan hewan dan tumbuhan tersebut kehilangan sumber makanan atau rezekinya. Sehingga terjadi hewan yang mengamuk ke pemukiman atau bencana longsor atau banjir akibat penggundulan hutan.

Maka bagi generasi milenial, mereka juga perlu hidup sesuai ajaran agamanya. Karena agama membuat pemeluknya menjadi lebih bersemangat hidupnya. Misalnya saja ajaran bersedekah akan mendapatkan balasan berlipat dari Allah SWT. Atau rutin membaca Alquran menyebabkan datangnya kemudahan dalam mencari pekerjaan.

Dengan demikian generasi milenial dan juga para orangtua sebenarnya tidak perlu takut terhadap masalah utama yang dihadapi generasi milenial yaitu lapangan pekerjaan. (efs)

 

Referensi: Bisnis Indonesia, 5 Desember 2017

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • Gerakan Nasional Sadar Tertib Arsip (GNSTA) di Provinsi Sumatera Barat

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh