Sektor Pariwisata Kian Menjanjikan


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 24 Desember 2017 21:59:17 WIB | Artikel | 645 kali dibaca


Sektor Pariwisata Kian Menjanjikan

Koran Tempo edisi 15 Desember 2017 dalam headlinenya memuat judul “Jumlah Pelancong Lokal Melonjak”. Kemudian di angel pertamanya Koran Tempo menulis “Menjelang liburan akhir tahun, konsumsi barang mulai kalah oleh belanja wisata”.

Untuk data pemesanan lewat agen offline setidaknya tumbuh 20 persen pada akhir tahun. Sedangkan pemesanan lewat agen online diperkirakan lebih besar dari offline. Misalnya saja pegi-pegi dot com yang mengalami lonjakan sebessar 300 persen untuk pemesanan hotel dan tiket perjalanan selama bulan November-Desember. Dan jika dibanding tahun 2016, pemesanan hotel, tiket kereta dan pesawat naik 2 kali lipat pada tahun 2017. Sementara tiket dot com juga mengalami kenaikan 80 persen di bulan Desember 2017 dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Berdasarkan catatan dari pegi-pegi dotcom, lima tujuang terbesar kunjungan wisatawan adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali. Sementara pemerintah sendiri memasarkan destinasi yang disebut “Bali baru”, yaitu: Danau Toba (Sumut), Tanjung Kelayang (Babel), Wakatobi (Sultra), Morotai (Maluku), Pulau Seribu (Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Borobudur (Jateng), Bromo-Tengger-Semeru (Jatim), Labuan Bajo (NTT) dan Mandalika (NTB). 10 destinasi wisata ini mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Jumlah dana untuk pengembangan 10 destinasi wisata ini adalah 20 miliar dolar amerika serikat atau setara 270 triliun rupiah.  

Namun ternyata kian bagusnya prospek pariwisata di Indonesia lebih banyak dinikmati oleh konsumen yang terlayani secara online. Sedangkan pemain offline seperti agen offline mengalami pengurangan pasar. Konsumen lebih memesan lewat jalur online karena memang di situ harga lebih murah, dan juga mudah dalam memesan. Konsumen memang sangat diuntungkan, selain itu pariwisata juga diuntungkan dengan semakin banyaknya konsumen yang berwisata dengan dukungan kemudahan aplikasi atau jalur online. Sedangkan agen offline terlihat mulai membenahi diri untuk mengejar ketertinggalan dalam soal teknologi ini.

Salah satu keluhan agen offline yang sebenarnya memiliki peran penting dalam hal penyerapan tenaga kerja dan multiplier effect adalah, agen online atau aplikasi online mendapat suntikan dana besar dari investor sehingga bisa menurunkan harga. Konsumen diuntungkan di satu sisi, tapi di sisi lain ada yang mengalami nasib yang kurang beruntung yang jumlahnya mungkin cukup banyak.

Namun demikian, secara makroekonomi keinginan berwisata dari masyarakat ini menjadi kontributor yang makin penting dalam penciptaan pertumbuhan ekonomi. Data BPS kuartal ketiga menyebutkan bahwa pengeluaran untuk belanja pakaian dan barang oleh rumah tangga pertumbuhannya hanya sebesar 2 persen. pengeluaran keluarga untuk informasi yang termasuk didalamnya terkait dukungan terhadap pariwisata dan leisure pertumbuhannya sebesar 10,8 persen.     

Menteri Pariwisata Arief yahya menyatakan bahwa pelayanan berbasis online merupakan pemicu tumbuhnya sektor pariwisata nasional tahun 2017. Indonesia masuk kategori negara yang pertumbuhan industri pariwisatanya paling agresif. Ini bisa dilihat dari Januari hingga Oktober 2017 pertumbuhannya sudahmencapai 24 persen, empat kali lebih tinggi dibanding pertumbuhan pariwisata global.

Sektor pariwisata juga telah membuat ekonomi masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan. Ini karena sektor pariwisata berhubungan langsung dengan sektor riil, pengangguran, kemiskinan, yang bisa membawa dampak positif bagi perekonomian.

Namun pemain offline juga mesti berbenah agar tetap eksis dan mampu bersaing dengan pemain online, karena pemain offline ini juga terkait dengan kesejahteraan masyarakat, pengangguran dan kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang diperkirakan sebesar 5,2 persen dan diperkirakan 5,4 persen tahun 2018 mudah-mudahan bisa mendukung sektor pariwisata yang perkembangannya sangat menarik. Karena belanja keluarga semakin besar pertumbuhannya dan semakin besar pula kontribusinya, diikuti pertambahan jumlah kelas menengah yang makin senang dengan leisure, maka konsumsi rumah tangga kemungkinan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi ini.  (efs)

Referensi: Koran Tempo, 15 Desember 2017

Ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh