Lebaran dan Omset


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 22 Juni 2019 21:23:52 WIB | Artikel | 265 kali dibaca


Beberapa waktu lalu beredar kabar atau berita tentang harga makanan yang harus dibayar dengan harga mahal oleh pengunjung Pantai Padang. Pengunjung menganggap harga jual sate yang dibelinya terlalu mahal untuk ukuran kualitas yang ada. Jika tidak salah satu porsi dipatok 25.000 rupiah. Dan setengah porsi 20.000 rupiah. Hal ini terjadi karena momen lebaran. Sehingga dimanfaatkan untuk menaikkan harga jual.  

Harga sate tersebut pada hari biasa tidak semahal pada momen lebaran. Memang harga sate ada yang cukup mahal. Tapi biasanya sate yang sudah dikenal namanya oleh orang banyak dan tempatnya sudah menetap, bukan berpindah-pindah. Bukan juga  sate yang dijual melalui gerobak. Kalaupun gerobaknya ada, tempatnya yang menetap pun biasanya sudah ada.   
Akibat dari perilaku menaikkan harga sate tersebut, dengan alasan momentum lebaran maka pengunjung pun ada yang merasa keberatan. Oleh karena itu, hal ini sebenarnya merupakan masukan bagi penjual sate, agar menerapkan harga wajar kepada konsumen. Meskipun dijual ketika momen lebaran.  

Jika penjual mencoba menaikkan harga jual di luar batas kewajaran, maka yang biasanya terjadi adalah kenikmatan sesaat dari mendapatkan harga yang lebih tinggi. Tapi setelah momen lebaran belum tentu bisa menaikkan harga jual satenya tersebut.  

Dalam dunia bisnis, sebenarnya berlaku ungkapan “ada harga, ada rupa”. Artinya, barang yang baik biasanya harganya pun berbanding lurus. Apalagi untuk makanan, semakin makanan tersebut bercita rasa lezat maka biasanya harganya pun sebanding.  

Jadi, untuk penjual sate yang biasanya menjual di harga x rupiah maka seharusnya di momen lebaran pun menjual sate di harga x rupiah. Ini dikarenakan perlunya menjaga konsistensi harga agar dipercaya oleh konsumen. Jika dilihat lagi, banyak penjual sate yang konsisten menjual sate di harga yang konsisten, sehingga konsumen nyaman membeli sate dengan harga yang konsisten.  

Selain itu, dalam bisnis dikenal dengan yang namanya “revenue” yang merupakan penerimaan dari penjualan suatu produk atau barang. Ada produsen atau penjual yang lebih mementingkan revenue dibanding profit. Yang artinya lebih mengutamakan penjualan dengan harga yang wajar dan konsisten dibanding mencari untung yang banyak.  

Di dalam situasi atau kondisi ekonomi yang cenderung stagnan, maka menggunakan strategi “prioritas revenue” bisa digunakan. Dengan strategi ini penjual atau produsen tetap mendapatkan keuntungan yang lebih lancar karena revenue terus diterima akibat harga yang disenangi konsumen.   

Maka, jika untuk kasus tukang sate yang menaikkan harga jual ketika momen lebaran, boleh jadi hanya mengutamakan profit maksimum. Namun tidak berpikir untuk setelah lebaran. Sehingga belum tentu revenue yang ia terima konsisten atau lancar.  

Sudah saatnya pelaku usaha mikro kecil mempelajari bagaimana mereka bisa mempertahankan usahanya dengan menjaga harga. Bukan berarti harga harus rendah dan untung tidak ada. Akan tetapi perlu mempertimbangkan bagaimana konsumen meilai jualannya. Karena di sini juga berlaku hukum demand (permintaan) dan harga. Jika yang dijual harganya mahal sementara rasanya biasa saja, maka permintaan akan turun. Akan tetapi jika rasa biasa dan harga wajar (bisa untung) maka di sinilah terjadinya titik temu yang lebih menguntungkan penjual dan pembeli.  

Dengan memanfaatkan era wisata halal dan kuliner halal, maka kebijakan harga ini perlu menjadi pertimbangan yang serius para penjual makanan. Sehingga baik penjual dan pembeli sama-sama saling rida (antaraddin minkum). Dan di sinilah berkah turun, yang akan berdampak positif bagi kedua pihak. (efs)

 


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh