Potensi Ekonomi Indonesia dan Asia


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 30 Juli 2017 21:41:20 WIB | Artikel | 1814 kali dibaca


Potensi Ekonomi Indonesia dan Asia

Bisnis Indonesia edisi 25 Juli 2017 memuat beberapa berita optimisme Indonesia dalam menghadapi kondisi ekonomi global. Di antaranya dengan judul “Proyeksi Ekonomi Global: Asia Makin Kokoh”, “Kesenjangan Sosial: Ekonomi Syariah Dinilai ‘Obat Mujarab’”dan “Energi Baru bai PLN”.

Bisnis Indonesia mengetengahkan bahwa kawasan Asia semakin memperkokoh dirinya sebagai kawasan yang memiliki pertumbuhan ekonomi terkuat di dunia, baik tahun ini dan tahun depan. Pertumbuhan ekonomi negara Asean seperti Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia dan Thailand diramalkan akan tumbuh 5,1 persen tahun ini dan 5,2 persen pada tahun depan.

Penyebab menguatnya pertumbuhan ekonomi di Asia adalah menguatnya ekspor dan permintaan domestik. Baik IMF (International Monetary Fund) maupun ADB (Asian Development Bank) meramalkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia berada di atas 5 persen.

Sementara itu di dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardjojo menyatakan bahwa ekonomi syariah dalam pelaksanaannya di Indonesia sudah tidak lagi hanya sektor keuangan syariah semata saja yang dikembangkan. Akan tetapi seharusnya sudah meliputi sektor strategis seperti industri halal food, halal tourism, halal pharmacy dan cosmetics, serta halal media.

Hal yang disebut Gubernur BI ini akan dirumuskan oleh Komite Nasional Keuangan Syariah. Semua kementerian dan lembaga akan bersinergi dengan MUI untuk mewujudkan hal ini. Secara umum perkembangan atau pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia sudah cukup tinggi. Namun jika melihat posisi Indonesia dalam Global Islamic Indicator 2017, berada pada urutan 10. Sedangkan posisi pertama dan kedua diduduki oleh Uni Emirat Arab dan Malaysia.

Gubernur BI menyatakan bahwa selama ini Indonesia baru berada di jalur keuangan syariah, dan belum memasuki industri syariah. Agus memaparkan bahwa pada tahun 2015 volume industri halal global mencapai 3,84 triliun dolar AS.  Pada tahun 2021 diramalkan akan tumbuh menjadi 6,38 triliun dolar AS.

Agus juga menyebut bahwa industri halal food pangsa pasarnya sudah mencapai 1,1 triliun dolar AS pada tahun 2015. DI mana Indonesia kebagian 0,16 triliun dolar AS. Dalam hal halal travel, pangsa pasar global pada 2015 mencapai 0,15 triliun dolar AS, diramalakan akan meningkat menjadi 0,24 triliun dolar AS pada 2021. Di mana Indonesia baru kebagian 0,01 trilun dolar AS saja, atau berada pada posisi kelima.

Dan untuk halal fashion, Indonesia kebagian 0,01 triliun dolar AS, di mana pangsa pasar global mencapai 0,24 triliun dolar AS  pada 2015 dan diramalkan akan meningkat menjadi 0,37 triliun dolar AS.

Apa yang dipaparkan Gubernur BI ini memang harus ditindaklanjuti segera karena jika melihat potensi Indonesia memasuki industri halal global peluangnya cukup besar. Selain sebagai konsumen muslim terbesar, Indonesia juga memiliki produsen industri halal yang perlu dorongan, pembinaan dan juga proteksi untuk mengembangkan usahanya.

Kemudian terkait masalah listrik, ada kabar baik yang menambah optimisme ekonomi. PLN akan menandatangani penjualan/pembelian  listrik dari 62 unit pembangkit listrik tenaga mikro hidro, biomassa, dan biogas dengan total kapasitas 363,37 megawatt.

Ada 58 pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang akan dibangun di Sumatera, dan 4 pembangkit di Jawa. Lamanya kontrak pembelian yaitu 25 tahun di mana terdapat opsi tak or pay 20 tahun dan take and pay 5 tahun. Untuk Sumbar, harga yang ditetapkan sebesar Rp912,90 per KWH.

Dengan adanya kabar baik di sektor kelisitrikan ini, akan mendorong berjalannya perekonomian. Karena di satu sisi investor mendapatkan kepastian, dan di sisi lain PLN akan mendapatkan sumber listrik yang akan disalurkan kepada masyarakat.

Dan jika melihat tiga buah kabar baik yang berasal dari tiga judul berita di atas, nampaknya hal ini akan menjadi jalan yang baik bagi ekonomi Indonesia untuk semakin dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Kue pertumbuhan maupun kue pembangunan diharapkan akan semakin mengalami pemerataan dan distribusi yang semakin luas.

Dan optimisme itu sudah terlihat baik di tingkat pusat maupun daerah. (efs)

 

Referensi: Bisnis Indonesia, 25 Juli 2017

Ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh