Pahlawan dan Kemerdekaan


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 12 November 2017 19:04:28 WIB | Artikel | 728 kali dibaca


Pahlawan dan Kemerdekaan

Di bulan November 2017 ini pemerintah kembali menganugerahkan gelar pahlawan kepada 4 sosok yang memang layak mendapat gelar pahlawan.  Keempat nama tersebut adalah  TGKH Muhammad Zainuddin Madjid (pendiri Nahdhatul Wathan), Laksamana Malahayati (panglima perang perempuan pertama di dunia), Sultan Mahmud Riayat Syah III (Kepulauan Riau), dan Prof. Drs. Lafran Pane (pendiri Himpunan Mahasiswa Islam, HMI).

Bangsa Indonesia patut bersyukur karena memiliki Hari Pahlawan yang diperingati pada setiap tanggal 10 November. Pada tanggal ini di tahun 1945 memang terjadi aksi heroik dan mungkin perang terbesar atau perang dalam jumlah besar bangsa Indonesia dengan penjajah, dalam hal ini sekutu yang meminta para pejuang dari bangsa Indonesia menyerahkan senjatanya.  

Jika kita mencoba menelusuri kuburan para pejuang zaman dulu di setiap taman makam pahlawan yang ada di kota-kota besar, maka akan kita dapati nama-nama yang meninggal dalam usia muda karena melakukan perjuangan fisik melawan penjajah. Untuk itu, sudah selayaknya kita memberikan penghormatan penuh kepada seluruh pejuang bangsa ini yang sudah mengorbankan nyawanya guna mencapai kemerdekaan.

Jika para pejuang telah berjuang dengan mengorbankan nyawa, maka bagaimana dengan mereka yang hidup di masa bangsa ini sudah merdeka? Jawabannya, harus menjalankan perannya di bidang masing-masing dengan kesungguhan hati layaknya para pejuang zaman dulu  yang rela mengorbankan nyawa mereka.

Karena jika kita berhenti melakukan kerja-kerja yang harus diteruskan, maka kita turut menyumbang kemunduran bangsa ini. Bangsa-bangsa lain berlari kencang, bahkan sangat kencang, ketika baru saja merdeka. Memang ada yang memiliki kesadaran kolektif yang baik sehingga kemajuan dalam waktu cepat menjadikan bangsa yang baru merdeka mencapai kemajuan. Namun tidak sedikit bangsa yang baru merdeka justru mengalami kemunduran akibat perpecahan, dan juga individualisme dan keserakahan sekelompok orang.

Kita semestinya bisa maju mengejar ketertinggalan, karena sebenarnya karakter masyarakat kita condong kepada kebersamaan. Sebuah modal yang signifikan untuk maju. Namun memang kita tidak bisa menyalahkan orang lain jika diri sendiri ternyata menjadi bagian dari kemunduran tersebut.

Oleh karena itu, mengenal kembali para pahlawan beserta perjuangannya sangat baik untuk memotivasi masyarakat guna hidup positif dan konstruktif. Kita sadari bahwa pada saat ini budaya negatif akibat pengaruh luar maupun yang muncul dari dalam diri ternyata menyumbang kemunduran. Kita yang seharusnya bisa berlari akhirnya harus berjalan pelan akibat budaya-budaya negatif yang ternyata menggerogoti masyarakat, terutama generasi muda.

Pahlawan yang mendapat aungerah dari pemerintah ini tak akan bisa berbuat apa-apa jika generasi penerusnya jauh dari semangat untuk maju dalam mengisi kemerdekaan. Para pahlawan yang namanya sudah masuk ke dalam buku pelajaran sejarah akhirnya hanya bisa meratapi nasib jika mereka mengetahui bahwa keinginan untuk maju dalam mengisi kemerdekaan tidak ada pada diri generasi penerus. Maka akhirnya mungkin mereka akan bertanya, untuk apa berjuang membebaskan diri dari penjajajahan jika kemerdekaan ternyata tidak mengajarkan generasi penerus untuk mensyukuri nikmat tersebut.  

Berjuang melepaskan diri dari penjajahan merupakan naluri dasar manusia. Namun ketika di alam merdeka, naluri dasar manusia seperti bercabang. Ada yang bermalas-malasan dan cenderung statis, ada pula yang ingin maju.  Maka ini adalah ujian bagi mereka yang hidup di alam kemerdekaan apakah mau bersungguh-sungguh atau bermalas-malasan.

Maka, masih banyak pekerjaan rumah bagi mereka yang hidup di alam kemerdekaan untuk menjaga kemerdekaan dengan berbagai hal positif. Jangan lagi yang dilakukan berbagai kegiatan negatif, karena pasti akan bertentangan dengan semangat kepahlawanan yang penuh dengan pengorbanan.  

Maka menjadi sangat penting untuk menjadikan alam kemerdekaan sebagai ajang implementasi semangat kepahlawanan baru untuk mengisi dengan pembangunan di segala bidang. Untuk menjadikan masyarakat yang hidup di alam kemerdekaan bisa meneruskan perjuangan para pahlawan dan memiliki semangat kepahlawanan, maka salah satu jalannya adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang baik dari orangtua, sekolah, dan lainnya akan memberikan dampak positif berkembangnya semangat kepahlawanan. Sehingga ada estafet yang jelas dan positif perjalanan sejarah bangsa ini.

Kita juga menyadari bahwa adanya penjajahan dalam bentuk lain yang menyebabkan banga ini menghadapi kendala atau rintangan untuk maju. Untuk itu sumberdaya manusia perlu diperbaiki sedemikian rupa. Setiap tahun kita akan selalu memperingati hari pahlawan. Tentunya kita malu jika ternyata dari tahun ke tahun kualitas masyarakat kita, kualitas bangsa kita jalan di tempat dan ternyata ada yang mengalami kemunduran. (efs)

Referensi: okezone.com 9 November 2017

Ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh