Pariwisata dan Ketahanan Ekonomi


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 31 Oktober 2018 21:21:36 WIB | Artikel | 427 kali dibaca


Pariwisata dan Ketahanan Ekonomi

Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara dalam sebuah seminar yang diangkat dalam rangka pertemuan tahunan IMF-Bank Indonesia 2018 di Bali menyatakan bahwa pariwisata merupakan salah satu kunci ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Maka pemerintah harus mengembangkan destinasi wisata untuk tujuan alternatif di luar Bali.

Menurut data BPS hingga Agustus 2018 jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia sudah mencapai 10,58 juta orang. Terjadi kenaikan sebesar 12,3% dibanding tahun lalu pada periode yang sama. Wisatawan Malaysia merupakan yang tertinggi dengan persentase 15,97%. Kemudian Cina dan Timor Leste sebesar 14,08% dan 11,15%. Dan Australia 8,03%. Jika berdasar pintu masuk maka komposisinya adalah sebagai berikut, darat 16,37%, laut 19,58%, udara 64,05%. Terlihat jalur udara paling banyak dipakai sebagai wisatawan asing untuk masuk ke Indonesia. Untuk Sumbar, yang saya ketahui akses udara juga merupakan yang paling banyak dilakukan oleh wisatawan asing untuk datang ke Sumbar. 

Dengan kenaikan jumlah wisatawan asing maka terjadi kenaikan penerimaan devisa. Berdasar data Kementerian Pariwisata terjadi kenaikan penerimaan devisa dalam (dolar AS) sejak 2009 hingga 2018 yaitu 6,3 (2009); 7,6 (2010); 8,6 (2011); 9,1 (2012); 10,1 (2013); 11,2 (2014); 12,2 (2014); 13,5 (2016); 16,8 (2017); 20,0 (2018, target). 

Sementara jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia 2009-2018 (dalam juta) adalah sebagai berikut: 6,55 (2009), 7,01 (2010), 7,65 (2011), 8,04 (2012), 8,8 (2013), 9,44 (2014), 10,41 (2014), 11,52 (2015), 11,52 (2016), 14,04 (2017), 10,58 (2018, hingga Agustus). Trennya menunjukkan kenaikan. Untuk Sumbar sendiri, wisatawan asing yang dari Malaysia adalah yang tertinggi jumlahnya. Dan telah terjadi penambahan jadwal pesawat dari Malaysia ke Sumbar, yang menunjukan kenaikan jumlah wisatawan asing yang datang ke Sumbar. 

Lalu bagaimana dengan wisatawan lokal? Ternyata muncul tren kenaikan pengeluaran wisatawan lokal dalam rentang 2009-2018 (dalam triliun). Yaitu 137,91 (2009), 150,42 (2010), 160,85 (2011), 172,85 (2012), 177,84 (2013), 213,97 (2014), 224,69 (2015), 241,67 (2016), 265,23 (2017), 270 (2018, ditargetkan). 

Dengan melihat data di atas, maka peluang Sumbar untuk meningkatkan pendapatan dari pariwisata terbuka lebar. Dengan kenaikan devisa, kenaikan jumlah wisatawan asing, kenaikan jumlah jadwal pesawat ke Padang dari Malaysia, kenaikan pengeluaran wisatawan lokal, yang menunjukan tren positif seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku pariwisata Sumbar. Khususnya  masyarakat yang ada di sekitar destinasi wisata, agar mereka meningkatkan kualitas layanan kepada wisatawan. (efs) 

 

Referensi: Tabloid Mingguan Kontan, 22 Oktober – 28 Oktober 2018  

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh