MALANG TAK DAPAT DITOLAK


Post by Tenaga Artikel(Zakiah) | Posted on 11 Desember 2018 07:41:31 WIB | Artikel | 258 kali dibaca


MALANG TAK DAPAT DITOLAK
Ada pepatah yang menyebutkan Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Inilah pengibaratan kiasan pepatah jika seseorang terkena musibah. 
Siapa diantara kira yang tak pernah berjumpa dengan musibah?
Tentu semua manusia akan disambangi dengan berbagai keadaan yang membuat gerah.
Menyikapi segala warna dalam kehidupan. Kita harus bijak agar tak salah mengambil keputusan.
Lantaran salah langkah akan menjadikan hidup tak tentu arah.
Butuh panduan agar kita tak salah jalan. 
Islam mengajarkan tentang pedoman yang bisa dijadikan tuntunan
Rasulullah dan salafusshaleh sudah memberikan keteladanan
Bila musibah hadir, itulah yang kita pahami sebagai takdir. Maka seperti apa sikap kita?
1. Iman harus senantiasa penuh dalam jiwa kita. Karena dengan iman kita menyadari bahwa segala kejadian ada dalam titah Nya. Allah mengatur yang terbaik untuk manusia. Namun terkadang sayang kita sebagai manusia sulit sekali untuk segera berhikmah yang kisah yang dialami. Bahkan penyesalan yang tiada henti membuat diri seolah terdzalimi atau terhinakan. Padahal jika kita melandasi segala yang ada dengan iman akan siaplah kita menerima segala keadaan. Berat mungkin dirasakan tapi iman mengajarkan agar manusia semakin percaya akan keterlibatan Rabb pencipta alam.
2. Ridla adalah sikap menerima dengan kepasrahan. Ridla bermula dari hati sanubari. Maka ridla yang berarti rela inilah langsung terhubung dengan Allah. Ridla lebih ada sikap penerimaan atas takdir. Baik nikmat maupun cobaan. Orang yang ridla ini bukan berarti seketika menerima namun butuh proses. Terkadang ada air mata yang menitik lantaran ada sebagian peristiwa yang melukai hatinya. Namun tangis itu sembari mengingat Allah dan ada penyadaran bahwa semua memang jadi kehendak Nya.
Maka untuk menjadi pribadi yang memiliki sikap ridla butuh perjuangan. Perlahan tapi pasti hingga sampai pada titik dimana semua tak lagi terasa di hatinya. 
"Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Kita sangat mengerti bahwa ujian yang diterima manusia pilihan jauh lebih berat. Coba kita ingat seperti apa ujian yang diterima para Rasul dan Nabi? Juga para ulama terdahulu. Maka Rasulullah mengingatkan kepada kita, "Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang ridha (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa murka maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Ibnu Majah)
3. Muhasabah atau evaluasi diri. Bila kita mudah bermuhasabah atas segala kesulitan yang didatangkan maka predikat sebagai hamba yang berkualitas dalam maknawiyah akan disematkan. Kondisi maknawiyah seseorang yang mengantarkan pada perilaku yang berhati-hati. Semua yang jadi ukuran adalah dirinya bila berjumpa dengan musibah. Bukan memilih menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan takdir. 
Mungkin ungkapan kemarahan akan muncul atau minimal akan berkata seandainya. Sementara kita tak boleh berandai-andai. Karena yang terjadi tidak ada yang kebetulan. Semua sudah tercatat dengan rapi dan menjadikan rahasia Nya. 
Tugas kita menakar kesalahan dan terus memerbaiki diri. Jangan sampai kita sibuk mencari kesalahan orang lain dan menafikan kesalahan prbadi sehingga ibarat gajah di pelupuk mata tak kan tampak dan kuman di seberang lautan lebih tampak.
Muhasah yang membuat hal yang berat menjadi ringan. Allah sangat senang kepada hamba Nya yang meneliti segala kesalahan pribadinya. Ibnu Athaillah menasihati,"Telitilah dengan sifat-sifatmu maka Allah akan membekalimu dengan sifat-sifat Nya, telitilah dengan kerendahanmu maka Allah akan membekalimu dengan kemuliaan Nya, telitilah dengan kelemahanmu maka Allah akan membekalimu dengan kekuasaan Nya, dan telitilah dengan ketidakmampuanmu maka Allah akan membekalimu dengan daya dan kekuatan Nya."
4. Bersabar. Kesabaran menunjukkan kita punya iman. Lantaran dengan kesabaran ini kita bisa menjalani hidup. Orang yang sabar bukan sekedar menerima keadaab tetapi ada ikhtiar untuk melakukan perubahan pada keadaan yang lebih baik.
Orang bisa bersikap sabar karena paham akan adanya konsekwensi yang baik jika mampu bersabar. Dan ada akibat yang buruk jika tidak sabar. Kesadaran ini harus dimunculkan. Maka sebagai manusia kita wajib belajar banyak hal. Sehingga sikap yang bersahaja atas masalah yang ada tak membuatnya gegabah untuk mengurainya apalagi ingin segera selesai sesuai ukuran dirinya. 
Seorang buruh rela bersabar ketika bekerja keras karena tahu di akhir bulan ia akan digaji. Seorang karyawan bersabar dimarahi atasannya karena ia tahu kalau ia tidak sabar dimarahi, ia akan lebih dimarahi lagi. Ini sekedar ilustrasi tentang sikap sabar.
Dan Khalifah Ali bin Abi Thalib mengatakan: "Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak" 

Demikianlah, orang-orang mulia mampu bersabar karena tahu balasan dari sabar adalah sesuatu yang tak terhingga, yaitu kebahagiaan di akhirat. "Tidak ada seorangpun yg bersabar terhadap kesulitan hidupnya kecuali aku akan menjadi penolongnya nanti di hari kiamat" (HR Muslim)  
5. Bersyukur akan meringankan segala yang kita rasakan. Kita perlu melihat kesulitan atau masalah orang lain. Masih banyak yang jauh lebih menderita. Bahkan tak berpunya harta. 
Syuroih Alqodhi -rohimahulloh- mengatakan: Sungguh saat aku ditimpa musibah, aku memuji Allah sebanyak 4 kali:
a. Aku memuji-Nya, karena musibahnya tdk lebih parah dari itu.
b. Aku memuji-Nya, krn Dia memberiku kesabaran dlm menghadapinya.
c. Aku memuji-Nya, krn dia memberiku taufiq utk mengucapkan ‘innalillah wa inna ilaihi rojiun’, dg harapan aku dpt pahala darinya.
d. Dan aku memuji-Nya, karena Dia TIDAK menjadikan musibah itu dlm agamaku”.
Mari kita perbanyak syukur atas apa yang terjadi agar Allah semakin ridla terhadap kita. 
6. Move on. Bergegas untuk bangkit dari keterpurukan. Hal ini menandakan diri kita manusia yang tegar. Hidup ini dijalani saja. Mainkan peran kita sebagai hamba yang berbudi mulia niscaya kehidupan yang lebih baik akan kita dapatkan. 
Kita diminta untuk tidak terus menerus dalam kesedihan yang berlarut. Ada banyak tugas yang tak terselesaikan bila kita hanya terkungkung dalam perasaan menderita. Coba kita mengingat betapa banyak karunia yang telah diberikan oleh Allah yang tak terhitung jumlahnya. 
Hibur diri dengan aktivitas kebaikan, sibukkan diri untuk menjadi manusia pilihan dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beramal Surga. Kita terus bangun semangat sehingga kiprah kita banyak dirasakan oleh banyak manusia. 
Dr 'Aidh al Qarni Berkata dalam Kitab La Tahzan, "Jika selama di dunia kita menderita kelaparan, jatuh miskin, dilanda kesedihan, menderita penyakit yang tak kunjung sembuh,  selalu mengalami kerugian. atau diperlakukan secara zalim, maka ingatkan diri kita pada kenikmatan Surga yang lebih kekal abadi. Apabila kita benar-benar meyakini "jalan" ini dan mengamalkan dengan benar, niscaya kita akan mampu mengubah setiap kerugian menjadi keuntungan dan setiap bencana menjadi nikmat."
Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh