PEDULI DISABILITAS BAGIAN DARI MASYARAKAT


Post by Tenaga Artikel(Zakiah) | Posted on 25 Maret 2019 03:02:54 WIB | Artikel | 183 kali dibaca


PEDULI DISABILITAS BAGIAN DARI MASYARAKAT

Pernahkah kita bersyukur, bahwa terlahir sempurna sebagai manusia. Lengkap semua organ tubuh dan mampu bergerak melakukan segala sesuatu dengan mandiri. Pertanyaan ini akan terjawab jika kita berjumpa dengan seseorang yang cacat atau disabilitas.

Keberadaan para penyandang cacat  (bahasa Inggris: disability) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini. Di Sumatera Barat hingga saat ini kepedulian terhadap penyandang disabilitas terlihat masih belum mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama dengan orang-orang normal lainnya. Para penyandang cacat masih terkesan mendapatkan perlakuan diskriminasi sosial. Mereka sering terabaikan dan tersisihkan baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dissabilitas memang tentunya takdir dari Allah SWT, rahasia Allah yang tidak bisa kita ketahui, namun secara ilmiah penyebab dissabilitas bisa dirunut dan dijelaskan, bisa berasal dari faktor eksternal (gizi, lingkungan, kekerasan, dsb) dan internal (faktor genetika, dsb). Dianjurkan agar anak-anak penyandang cacat tidak disembunyikan karena rasa malu atau rasa takut ketahuan tetangganya bahwa diantara anaknya ada yang menyandang cacat. Anak-anak penyandang cacat  perlu ditangani secara dini. Anak anak yang apabila tidak mendapat pertolongan bisa kurang gizi harus mendapat perhatian agar tidak terlambat.

Berdasarkan data dari Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) Sumatera Barat menunjukkan bahwa saat ini sekitar 25.000 masyarakat penderita disabilitas di Sumbar hidup dalam ketidakpastian dan jauh dari keberuntungan. Para penyandang cacat ini masih banyak yang tidak bersekolah, tidak bisa bekerja dan terasing dalam kehidupan. Mereka masih dianggap orang-orang terbuang yang tidak berguna bagi lingkungan sekitar.

Cacat tubuh yang dimiliki seseorang bukanlah faktor penghalang dalam mencari rezeki atau mengukir prestasi. Dari kekurangan tersebut, hendaknya dijadikan cambuk untuk motivasi diri dan bukan dijadikan alasan untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain.

Kita tidak ingin masyarakat penyandang dissabilitas dianggap pengemis alias peminta-minta. Penyandang dissabilitas memiliki kekurangan, namun dari sisi lain juga masih ada kelebihan yang dimilikinya. Jadi kelebihan tersebut perlu diasah atau diasuh agar dapat memberikan kontribusi untuk diri sendiri ataupun masyarakat luas, sehingga mereka tidak dipandang sebelah mata oleh orang dan sebaliknya akan menimbulkan rasa simpatik dan salut, bukan rasa kasihan atau iba. Hal inilah yang perlu ditanamkan dalam diri para penyandang dissabilitas.

Penanganan terhadap penyandang cacat (dissabilitas)  ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi adalah tanggung jawab sosial kita sebagai anggota masyarakat dan moril bahwa kita semua adalah bersaudara, maka penyandang cacat (dissabilitas)  adalah saudara kita yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita.

LKKS (Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial) Provinsi Sumatera Barat, yang Ketuanya Hj. Nevi Irwan Prayitno, juga memiliki program kepedulian terhadap penyandang disabilitas, yaitu bidang : Pengembangan potensi, peran serta masyarakat dan kemitraan (P3MK), juga program  untuk  penanganan dan penggalangan potensi penyandang cacat dengan  kemitraan CSR  dan BAZ, PKPU, Rumah zakat dan lembaga donasi lainnya. Kemitraan LKKS yang sudah berjalan misalnya Program Anamis (Adopsi Nagari Miskin) dan Bedah Rumah untuk Daerah Tertinggal yang bisa saja menyentuh warga penyandang cacat.Demikian juga dengan keberadaan Posdaya, dapat dijadikan forum silaturahmi untuk meneliti adanya keluarga yang karena alasan tertentu bisa mempunyai anggota yang menjadi disabilitas. Selanjutnya yang perlu kita kembangkan adalah Pemberdayaan Ekonomi Penyandang Dissabilitas. Keberadaan penyandang cacat selama ini belum banyak mendapat perhatian terutama disektor pemberdayaan ekonomi. Selama ini penyandang           cacat baru diberi pembekalan ketrampilan yang bersifat personal. Adapun upaya pengelompokan usaha bersama antar penyandang cacat belum dilakukan. Padahal semangat penyandang cacat untuk bisa hidup mandiri sangat besar. Mereka memiliki kemauan untuk bangkit mandiri melebihi semangat kebanyakan orang. Penyandang cacat seperti tuna rungu dan tuna wicara masih masih bisa diberdayakan dibidang jasa dan produksi. Secara fisik, mereka memiliki kemampuan yang sama dengan manusia normal. Karena itu mereka masih bisa menguasai berbagai ketrampilan seperti perbengkelan, menjahit dan salon jika dibina dan didampingi secara maksimal.

Jika ada program pembentukan kelompok usaha bersama bagi penyandang cacat akan lebih memotivasi mereka untuk lebih berdaya. Harapannya, penyandang cacat lebih bisa mandiri secara ekonomi sehingga tidak mengantungkan hidup kepada orang lain.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh