Ketika Wanita Sadar


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 04 Desember 2019 01:02:45 WIB | Artikel | 110 kali dibaca


Ketika Wanita Sadar

Judul ini sepertinya agak aneh. Tetapi setelah membaca berita di Koran Sindo edisi 25 November 2019, maka menjadi jelas arti judul tersebut. Koran Sindo menempatkannya di halaman muka dengan judul, “Fashion Show Victoria’s Secret Dibatalkan”. 

Saya coba paparkan dulu beberapa poin penting yang ada di berita tersebut. 1. Sejak 1995, baru kali ini fashion show Victoria Secret (VS) dibatalkan. Pembatalan ini akibatnya derasnya kritikan terhadap ekspolitasi tubuh perempuan. 2. Penjualan terus menurun tiap tahun. 3. Penonton fashion show pada 2001 sebanyak 12 juta orang, turun menjadi 9,7 juta orang di 2013 dan turun lagi di 2018 menjadi 3,3 juta orang. 

4. Konsumen memandang negatif Victoria Secret karena dianggap menjual tubuh wanita. 5. Beberapa model internasional memandang fantasi dan idealisme tubuh perempuan ala VS tidak relevan dengan kenyataan. 6 Pemasaran VS cenderung mengabaikan perbedaan tubuh perempuan dan terkesan hanya pantas dikenakan perempuan berbadan supermodel. 7. Adanya ajakan memboikot fashion show VS dari fotomodel kepada semua perempuan. 

Dari tujuh poin di atas, ternyata yang menyadari adanya kesalahan dalam ekspolitasi tubuh perempuan adalah kaum perempuan sendiri, dan juga ada yang berprofesi sebagai model dan supermodel. 

Ini artinya kaum perempuan memang memiliki fitrah untuk menghargai tubuhnya agar tidak dieksploitasi untuk kepentingan komersial. Selama ini, jika melihat kondisi di Indonesia, adanya upaya melarang kegiatan yang mengeksploitasi tubuh wanita dari kelompok atau organisasi tertentu yang sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan sering dianggap sebagai sebuah kejahatan. Padahal jika melihat kondisi di mancanegara yang memiliki kebebasan lebih liberal dibanding Indonesia, upaya melarang eksploitasi tubuh wanita adalah hal yang rasional, dan tidak dikaitkan dengan kejahatan. 

Oleh karena itu, belajar dari kasus pembatalah fashion show VS tahun 2019, menunjukkan bahwa rasionalitas di mancanegara yang jauh liberal justru bisa diterima. Karena bagian dari demokrasi, yaitu kebebasan berpendapat. 

Di samping itu, kita di Indonesia tidak perlu merasa bahwa kebudayaan di luar negeri jauh lebih maju khususnya dalam hal yang berkaitan dengan eksploitasi tubuh wanita. Dan kemudian di Indonesia dicoba dilakukan hal serupa. Karena bisa jadi, ketika hal itu masuk ke Indonesia, hanya akan menambah inferioritas dan juga mungkin kehinaan bagi wanita Indonesia.  Dan sayangnya, budaya protes hal -hal negatif di Indonesia tidak semaju di mancanegara yang memberi ruang kebebasan berpendapat lebih baik, karena jaminan dari sistem hukum dan personil keamanannya. 

Belajar dari pembatalan fashion show VS, kita harus tetap memperhatikan dan menghargai adat dan budaya yang ada di daerah dan negara kita. Bagaimanapun, adat dan budaya yang sudah ada mencerminkan keinginan hidup masyarakat dengan pakaian, tempat tinggal, dan makananannya. Pengaruh asing yang masuk, selain belum tentu cocok bagi kita ternyata juga belum tentu cocok juga di negaranya. Apalagi jika terkait dengan wanita, sudah seharusnya kita lebih menghormati wanita guna terhindar dari eksploitasi tubuh ala budaya asing yang ternyata juga ditolak di tempat asalnya. (efs)

Referensi: Koran Sindo 25 November 2019

ilustrasi: freefoto dotcom


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh