Cabai dan Inflasi


Post by Diskominfo(Drs. AKRAL, MM) | Posted on 07 Februari 2017 14:13:41 WIB | Artikel | 870 kali dibaca


Cabai dan Inflasi

Oleh Irwan Prayitno

Pada 24 Januari 2017 lalu saya mengikuti High Level Meeting, rapat Tim Pemantauan dan Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumbar di Kantor BI Perwakilan Sumbar. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala BI Perwakilan Sumbar, Pemkab/Ko se-Sumbar, dan dinas terkait. Salah satu bahasan yang cukup hangat adalah kenaikan harga cabai. Kota Padang menduduki posisi keempat inflasi tertinggi secara nasional dan kedua di Sumatera.

Dari data BPS Sumbar dapat dilihat bahwa cabai adalah komoditi yang menyumbang inflasi cukup signifikan. Menurut data BPS, untuk inflasi bulan November 2016 di Padang sebesar 1,13%, cabai dan beras menyumbang angka terbesar. Cabai menyumbang 0,90% dan beras 0,15%.

Sedangkan jika melihat angka inflasi Sumbar tahun 2016 sebesar 4,89% (yoy), cabai merah dan beras menyumbang inflasi sebesar 44% dan 7%. Inflasi di Sumbar tahun 2016 lebih tinggi dari nasional yaitu 4,89% (yoy) dibanding 3,02% (yoy). Penyebab dominannya adalah gangguan produksi akibat cuaca dan kenaikan tarif angkutan udara pada saat perayaan hari besar keagamaan.

Dari sisi kebutuhan, cabai adalah termasuk yang permintaannya tinggi di Sumbar. Karena memang orang Minang menjadikan cabai sebagai komponen utama dalam menu wajib makanan sehari-hari mereka. Sehingga makan tanpa ada komponen cabai di menu rasanya ada yang tertinggal.

Upaya mengendalikan cabai dengan mengandalkan pasokan dari petani tidak bisa dilakukan seperti halnya memasok beras. Jika untuk beras, berbagai cara bisa dilakukan pemerintah untuk menanganinya. Di antaranya meningkatkan peran penyuluh, pembuatan sawah baru, pemberian benih dan pupuk, mekanisasi alat pertanian, dan perbaikan irigasi. Dan ini sudah terbukti mampu meningkatkan produksi beras. Dan tidak hanya beras, beberapa komoditas seperti bawang merah juga bisa dilakukan pendekatan semacam ini.

Sedangkan cabai, petani tidak bisa didesak menanam cabai untuk menyiapkan pasokan. Karena selain butuh kondisi cuaca tertentu, perawatannya juga rumit. Jika terjadi hujan lebat atau ketika musim hujan, cabai sulit tumbuh. Cabai akan busuk atau tidak berbuah, sehingga terjadi kegagalan panen.

Sedangkan ketika menanam cabai di musim kemarau, bisa tumbuh lebih baik, namun terjadi panen serentak di berbagai tempat. Sehingga harga cabai pun turun, sesuai hukum permintaan. Yaitu jika barang sedikit tapi permintaan banyak, maka harga semakin mahal. Jika barang banyak dan permintaan tetap atau makin sedikit, maka harga semakin murah. Dengan kondisi seperti ini, Sumbar memenuhi kebutuhan cabai dari daerah lain seperti Rejang Lebong (Bengkulu) dan Jawa Tengah.

Cabai yang dihasilkan petani di Sumbar sebenarnya ada, yaitu cabai kualitas premium, dan harganya tinggi, namun lebih banyak dijual ke luar Sumbar. Sedangkan cabai yang biasa atau non premium, didatangkan dari luar Sumbar.

Secara umum, dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan karakter petani di Sumbar yang cenderung pragmatis dalam menanam, maka sulit mendapatkan pasokan cabai dengan jumlah besar dari petani di Sumbar. Pemerintah melihat situasi dan kondisi yang demikian, kemudian mencari solusi yang bisa dilakukan. Karena pendekatan yang sudah dilakukan selama ini ternyata dipandang belum berhasil.

Salah satu pendekatan baru itu di antaranya adalah dengan menggerakkan masyarakat untuk menanam cabai. Benihnya dalam bentuk polybag yang sudah berisi pupuk dan tanah yang sudah disediakan pemerintah, dan dibagikan secara gratis. Sehingga diharapkan masyarakat meletakkan sedikitnya 20 buah polybag di pekarangan rumah mereka.

Masyarakat tidak perlu merawat secara khusus karena di polybag tersebut sudah tersedia pupuknya. Jika kondisi kemarau, maka hanya perlu disiram. Dan jika kondisi hujan, tidak perlu lagi disiram. Cukup praktis. Dengan gerakan semacam ini, masyarakat diharapkan tidak perlu membeli cabai, cukup memetik dari pekarangan rumah mereka.

Pembagian bibit cabai dengan polybag beberapa waktu lalu dilakukan kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) bekerjasama dengan PKK Prov. Sumbar yaitu sebanyak 150.000 bibit cabai untuk masyarakat. Dengan pembagian ini, setidaknya puluhan ribu masyarakat akan bisa menikmati sendiri cabai di rumah mereka. Selain kepada masyarakat, direncanakan pula pembagian bibit cabai kepada pelajar SMA di Sumbar.

Ini baru dari satu pihak yang memberi bibit cabai, insya Allah akan ada lagi pemberian melalui dana APBN, APBD Provinsi, dan juga keterlibatan swasta dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility).

Mudah-mudahan dengan adanya gerakan menanam cabai ini bisa membantu masyarakat memenuhi kebutuhan cabai di rumah tangga mereka. Selain itu, dengan adanya gerakan menanam cabai diharapkan harga cabai di pasaran kembali stabil sehingga inflasi pun berkurang. Insya Allah jika kita bersama-sama mendukung gerakan menanam cabai ini, akan menghilangkan cabai sebagai momok inflasi yang terjadi selama ini. ***

dimuat juga pada Padang Ekspres, 7 Februari 2017

(post by : akral/tim egov)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh