Perantau Minang Aset Yang Takkan Hilang

Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 03 April 2017 11:08:13 WIB


Perantau Minang, Aset Yang Takkan Hilang

Oleh: Noa Rang Kuranji

Falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” atau ABS-SBK yang dipegang orang Minang selama ini, ternyata cukup ampuh untuk mempertahankan identitas orang Minang dimana pun dia berada.

Maksudnya, selagi dia masih menganut agama Islam meskipun sudah bertukar kewarganegaraan tetap diakui sebagai orang Minang. Tapi kalau dia sudah bertukar keyakinan atau keluar dari Agama Islam, maka statusnya sebagai orang Minang otomatis hilang. Sebab, kalau sudah menyebut orang Minang pastilah agamanya Islam. Begitulah keteguhan prinsip orang Minang dalam menjaga adat dan agamanya.

Orang Minang dari dulu terkenal suka hidup merantau. Perantau Minang adalah sebutan bagi orang-orang Minangkabau yang hidup di perantauan atau di luar tanah asalnya, sekitaran dataran tinggi Minangkabau. Mereka tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dan juga di mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Australia, Eropah, Amerika, Timur Tengah, dan lainnya.

Entitas (komunitas) perantau Minang merupakan masyarakat yang jumlahnya diperkirakan setara kalau pun tidak lebih banyak daripada orang Minang yang ada di tanah asalnya, ranah Minangkabau. Mereka menjalani kehidupan di tanah rantau disebabkan beberapa faktor, seperti eksistensi diri, adat matrilineal, perang, dan faktor ekonomi, serta beragam motivasi, yaitu mencari kekayaan, ilmu pengetahuan, dan kemasyhuran.

Para perantau Minang terdahulu telah meninggalkan tanah pusakanya sejak berabad-abad yang lalu, dan keturunannya telah menjadi warga masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Minangkabau saat ini. Sementara para 'perantau Minang baru' masih punya kedekatan dan keterkaitan emosional dengan budaya dan tanah kelahirannya.

Peribahasa Minang yang berbunyi “Karatau madang di hulu, berbuah berbunga belum”. Artinya, ke rantau bujang dahulu, di rumah berguna belum atau daripada malu pulang ke kampung, lebih baik rantau diperjauh. Mungkin pribahas inilah yang membuat banyak perantau Minang yang tidak pernah pulang lagi ke kampung halamannya, walaupun rindu dendam pada ranah bundo dan segala isinya berkecamuk seakan tak tertahankan.

Saat ini diperkirakan lebih dari setengah populasi orang Minangkabau hidup dan berkembang di wilayah perantauan baik di Indonesia maupun mancanegara, perkiraan itu pun tidak memasukkan keturunan perantau Minang yang telah merantau dan berkembang sejak sekurangnya 1000 tahun yang lalu di berbagai wilayah di nusantara atau bahkan dunia pada masa modern ini.

Banyak di antara keturunan perantau Minang telah bertransformasi menjadi orang "Minang Baru" atau bahkan suku-suku baru seperti Aneuk Jamee di pantai barat Aceh, Suku Pesisir di pantai barat Sumatera Utara, masyarakat Negeri Sembilan, di Semenanjung Malaya, dan entah apa lagi namanya di wilayah-wilayah lain yang sudah lama terputus tali sejarah dan persaudaraannya dengan Minangkabau.

Legenda dan mitos serta ingatan kolektif dan tradisi lisan yang ada di berbagai kelompok masyarakat tertentu di Nusantara menceritakan tentang nenek moyang mereka yang berasal dari Minangkabau sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa kelompok masyarakat yang telah tercatat dalam sejarah, di antaranya komunitas tertentu di Meulaboh dan Tapak Tuan (Aceh bagian barat), komunitas tertentu di Tanah Karo (Sumatera Utara), Siak Sri Indrapura dan Muara Takus (Riau), Pangkalan Jambu dan Tungkal Ulu (Jambi), komunitas tertentu di Rejang (Bengkulu), Sekala Brak dan Paminggir (Lampung), serta Negeri Sembilan Malaysia yang populasinya cukup besar sehingga kemudian menjelma menjadi sebuah kerajaan, komunitas di Sulu (Filipina Selatan), komunitas di Sulawesi Selatan, Kutai, dan Palu, serta di Nusa Tenggara, yaitu komunitas tertentu di Bima dan Manggarai (Flores).

Komunitas Melayu-Bugis di Sulawesi Selatan yang terbentuk dari beberapa unsur etnis, salah satunya Minangkabau, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Sulawesi Selatan. Juga terbetik berita tentang keturunan Pagaruyung Minangkabau yang "terdampar" di pedalaman Kalimantan Tengah (Kerajaan Kotawaringin) di sebuah negeri bernama Kudangan, yang oleh masyarakat setempat diakui sebagai leluhur mereka. Sementara di pedalaman pegunungan Flores ditemukan kampung adat misterius bernama Wae Rebo yang konon nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau sejak berabad yang lalu.

Thomas Stamford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggris, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau menyimpulkan bahwa Minangkabau adalah inti dan sumber kekuatan bangsa Melayu yang menyebar di kepulauan timur (nusantara). Perantau Minang yang fenomenal telah melahirkan suku-suku baru di nusantara, dan ini adalah sesuatu yang alami dalam dinamika kehidupan alam. Keturunan perantau Minang dari abad-abad lalu sudah tak mengenal lagi kampung halaman nenek moyang mereka yang indah, yang jauh di pedalaman Sumatera bagian tengah, di dataran tinggi bergunung-gunung gagah yang memberi hawa sejuk dan di lembah-lembah berdanau indah yang pinggirannya jadi tepian mandi sejak dulu kala sampai masa kini (dikutip dari wikipedia bahasa Indonesia).

Satu hal yang membuat kita merasa bangga sebagai orang Minang adalah ketika berjumpa dengan para perantau Minang di mana pun, mereka langsung cepat akrab dan sangat peduli dengan saudaranya. Paling tidak, mereka pasti akan selalu bertanya bagaimana keadaan kampung halaman atau kondisi Ranah Minang saat ini.

Antusias untuk mengatahui informasi keadaan kampung halaman tersebut, rata-rata dimiliki para perantau Minang. Apalagi bagi mereka yang hampir berpuluh-puluh tahun tidak sempat pulang kampung. Artinya, rasa rindu dan cinta terhadap kampung halaman itu tetap ada, meskipun saat berada di kampung di masa lalu mereka mengalami nasib cukup pahit.

Buktinya, ketika mendengar kabar ada bencana di Ranah Minang, serentak perantau Minang di mana pun mereka berada langsung tersentak. Kemudian, tanpa diminta mereka dengan rela mengumpulkan dana guna meringankan beban saudara-saudaranya yang berada di kampung halaman. Seperti kejadian Istano Pagaruyung di Batusangkar terbakar pada tahun 2007 dan gempa dahsyat melanda Kota Padang dan Pariaman tahun 2009 silam.

Saat itu, hampir seluruh perantau Minang dari Sabang sampai Merauke, bahkan yang ada di luar negeri langsung menggalang dana bantuan dan mengirimkannya ke kampung halaman atau ke Sumetera Barat. Ada yang mengantarkannya langsung ke lokasi bencana dan ada juga yang mengirim dana melalui rekening bank yang ditunjuk pemerintah Sumbar saat itu. Yang jelas, kekompakan sesama orang Minang sangat terlihat ketika itu dan diakui oleh suku-suku lainnya di tanah air.

Suasana keakraban dan saling membantu orang Minang tersebut juga pernah penulis rasakan ketika mencoba hidup di rantau sekitar enam tahun lamanya. Tepatnya di Provinsi Riau atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Bumi Melayu atau Lancang Kuning”.

Pertanyakan pertama yang sering dilontarkan orang Minang ketika bertemu saudaranya dari kampung adalah, kapan datang dan sudah makan apa belum? Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan cerita-cerita yang lainnya. Artinya, “Raso jo Pareso dan Basa-Basi” orang Minang terhadap orang lain sampai kini masih terpelihara dengan baik.

Selain itu, para perantau Minang juga punya andil yang cukup besar dalam mendukung pembangunan kampung halamannya di Sumbar. Melalui organisasi paguyuban Minang yang dibentuknya di rantau, mereka sering berkontribusi dan berpartisipasi aktif dalam membantu pemerintah Sumbar.

Baik dalam urusan politik, agama, pendidikan, seni, budaya dan sosial kemasyarakatan lainnya, para perantau Minang tidak pernah ketinggalan dalam memberikan masukan yang positif. Misalnya, siapa figur yang tepat untuk calon pemimpin kepala daerah, para perantau Minang sering dimintai pendapatnya meskipun mereka tidak ikut memilih di kampung.

Setidaknya, saran dan pendapatnya bisa menjadi pedoman bagi saudara-saudaranya yang berada di kampung halaman demi kemajuan ke depan. Begitu juga dalam urusan lainnya, perantau Minang pasti sangat senang dilibatnya pemerintah daerah untuk bertukar-pikiran.

Mungkin dengan pertimbangan banyaknya kontribusi perantau Minang terhadap kampung tersebut, maka Pemprov Sumbar sengaja membentuk biro khusus untuk menjaga hubungan dengan perantau itu. Perantau Minang itu merupakan aset pembangunan yang sangat berharga bagi Pemprov Sumbar. Sampai kapan pun, aset tersebut tidak akan pernah hilang karena hubungan persaudaraan sesama orang Minang cukup kuat.

Mudah-mudahan hubungan baik antara perantau dengan masyarakat Minang yang berada di kampung halaman tersebut dapat terus dipertahankan. Kalau perlu, lebih ditingkatkan lagi di masa-masa mendatang. Amiiin...(*)