Membangun Mentawai dengan Menjual Pesona Ombaknya

Membangun Mentawai dengan Menjual Pesona Ombaknya

Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 27 Maret 2018 08:49:58 WIB


SECARA geografis, Kepulauan Mentawai termasuk tiga  wilayah Sumatera Barat dengan kategori daerah tertinggal. Namun dari tiga daerah tertinggal tersebut, Mentawai dinilai paling sulit keluar dari status itu karena dari 122 daerah tertinggal di Indonesia, Mentawai berada pada peringkat 76. Sedangkan dua kabupaten yang juga dinilai tertinggal, masing-masing Kabupaten Solok Selatan berada pada peringkat 35 dan Pasaman Barat pada peringkat 33.

Kabupaten Mentawai dibentuk berdasarkan Undang-undang RI Nomor. 49 Tahun 1999 dan  dan dinamai menurut nama asli geografisnya. Kabupaten ini terdiri dari 4 kelompok pulau utama yang berpenghuni,  yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan yang dihuni oleh mayoritas masyarakat suku Mentawai. Selain itu masih ada beberapa pulau kecil lainnya yang berpenghuni namun sebahagian besar pulau yang lain hanya ditanami dengan pohon kelapa.

Suku Mentawai sebagai penduduk utama di kabupaten ini, secara garis besar masyarakat ini tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang asal usul mereka, walaupun ada di antara mereka mengenal beberapa mitologi yang kadang agak kabur dan sukar dipercaya. Masyarakat setempat menyebut negeri mereka dengan nama Bumi Sikerei.

Sebahagian besar penghuni pulau-pulau di kabupaten Kepulauan Mentawai berasal dari pulau Siberut. Masyarakat suku Mentawai secara fisik memiliki kebudayaan agak kuno yaitu zaman neolitikum dimana pada masyarakat ini tidak mengenal akan teknologi pengerjaan logam, begitu pula bercocok tanam maupun seni tenun.

Penduduk di kabupaten ini separuhnya adalah penganut animisme, kemudian sebahagian beragama Kristen dan Islam. Setelah kemerdekaan masyarakat di kabupaten ini telah membaur dengan suku-suku bangsa lain yang ada di Indonesia terutama setelah kabupaten ini menjadi salah satu daerah transmigrasi dan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Bila dilirik dari segi potensi alam, Mentawai tidak hanya memiliki ombak yang terkenal. Tapi, kepulauan di Sumatera Barat ini ternyata juga memiliki hamparan pantai nan cantik. Pasir pantainya yang putih, berpadu dengan birunya air laut yang jernih. Punya pesona yang aduhai, bagi penikmati dunia wisata. Bahkan bagi kalangan peselancar dunia, Mentawai bisa dikatakan sebagai surga surfing. Kenapa? Karena di Mentawai terdapat sekitar 157 lorong ombak yang telah diberi nama, dan ombak Mentawai diposisikan di nomor urut 4 dunia.

Namun, pesona Mentawai bukan hanya ombak. Pantai-pantai di sini juga sangat menawan, sebut saja Pantai Tuapeijat, Mapaddegat, Makakang di Sipora Utara, Katiet di Sipora Selatan, dan Simatalu di Siberut Barat.

Itu baru beberapa, karena masih banyak lagi pantai cantik yang tersebar di 10 kecamatan. Semua tak hanya tersebar di 4 pulau besar, tapi juga di puluhan pulau kecil lainnya. Beberapa resor pun tersedia di sini, seperti Kandui Resort dan Aloita Resort.

Kemudian, daerah ini memiliki potensi alam yang banyak, selain dalam bidang perkebunan, pertanian dan perikanan. Daerah ini memiliki potensi untuk menjadi daerah kawasan wisata. Hasil laut merupakan salah potensi yang terus dikembangkan di kabupaten ini terutama ikan kerapu yang laku untuk di ekspor.

Makanan khas atau ole-ole dari kota ini adalah tepung sagu. Tepung yang diperoleh dari teras batang rumbia atau pohon sagu. Mungkin hampir disemua kota terdapat tepung sagu. Tapi bedanya disini benar-benar tepung yang original. Bukan tepung campuran. Sagu menjadi makanan pokok masyarakat disini selain pisang dan keladi.

Namun sangat disayangkan, 11 Maret 2018 lalu, sempat terjadi keributan antara rombongan wakil rakyat yang terdiri dari DPRD Mentawai dan DPRD Sumatera Barat, yang katanya  sempat ditolak masuk ke salah satu resort di Kecamatan Sipora Utara, Bahkan, Penolakan rombongan dewan itu terekam dalam video dan beredar ke publik.

 Video berdurasi 3,5 menit itu memperlihatkan seorang anggota dewan sedang berdebat dengan dua warga negara asing. Suara seorang pria berbaju hitam itu terdengar meninggi.

Menyikapi persoalan tersebut, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit menilai penolakan kedatangan anggota DPRD oleh warga negara asing pengelola salah satu resort di Kabupaten Mentawai itu hanya masalah kesalahpahaman.

Menurut Nasrul Abit, dirinya sudah mendapat penjelasan Bupati Mentawai dan kepala Dinas Pariwisata. Katanya, pengelola resort sebenarnya ingin menawarkan berlabuh di pantai karena dermaga sedang dalam kondisi perbaikan, tetapi komunikasi sudah terlanjur tidak berjalan baik.

Menurut Wagub Sumbar, kejadian itu harus menjadi pelajaran dan tidak boleh terulang lagi karena bisa membawa citra buruk terhadap kepariwisataan daerah. Salah satu cara, pihak yang ingin mengunjungi tempat wisata di Mentawai, termasuk resort, sebaiknya berkoordinasi dulu dengan Dinas Pariwisata setempat.

Tujuannya, bisa membantu menjembatani para  pengunjung dengan pengelola tempat wisata, sehingga  tidak terjadi kesalahpahaman lagi.

Kemudian, Wagub Sumbar Nasrul Abit juga meminta Dinas Pariwisata Mentawai mengumpulkan semua pengusaha resort untuk pembinaan. Kemudian, pengusaha resort  juga harus menggunakan tenaga kerja lokal, dengan tujuan  manfaat ekonomi secara langsung bisa dinikmati dan dirasakan masyarakat Mentawai.

Kini, mari kita bangun Mentawai, demi kesejahteraan masyarakat Mentawai. Selanjutnya mari juga kita hilangkan prasangka negatif untuk kesejahteraan masyarakat Mentawai yang merupakan bagian dari masyarakat Sumatera Barat. (Penulis waratwan tabloidbijak.com)