Menceritakan Lagenda si Malin Kundang di Hari Ibu

Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 14 Desember 2020 09:28:49 WIB


Oleh: Yal Aziz

RASANYA bagi generasi melenial sekarang ini perlu juga disampaikan lagenda cerita si Main Kundang si anak durhaka kepada ibu kandungnya. Kenapa? Karena cerita Malin Kundang adalah sebuah legenda yang paling populer di Indonesia, menceritakan tentang anak yang durhaka terhadap ibu yang melahirkannya. 

Dilegenda si Main Kundang ada pesan moral yang perlu disampaikan kepada generasi muda tentang menghormati seorang ibu yang melahirkan. Singkat ceritanyanya, si Malin Kundang adalah seorang anak muda yang durhaka kepada ibunya. Kedurhakaannya akhirnya membuat hati sang ibu hancur dan Tuhan murka, sehingga dia diberi hukuman berupa kutukan menjadi Batu, beserta kepingan kapal yang digunakan untuk berlayar.

Kini miniatur  batu yang konon adalah sosok si-Malin telah menjadi salah satu Ikon Kota Padang, serta destinasi favorit di Sumatera Barat yang populer selain Jam Gadang, Danau Maninjau, Istano Basa dan yang lainnya.

Berkaca dari kepingan cerita rakyat Malin Kundang di atas, tentu sangat layak rasanya bila kita menarik makna dan pesan moral yang ada pada cerita tersebut, bagi kita, dan terutama bagi anak-anak untuk dijadikan salah satu pedoman dalam menjalani hidup.

Orangtua, terutama ibu yang punya tingkatan lebih tinggi dari Ayah, merupakan orang yang wajib untuk dihormati, dihargai dan disayangi, dalam keadaan hidup maupun telah wafat.

Kemudian secara nasional, kita juga memperingati Hari Ibu sebagai sebuah peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran,[7] yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan  Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. 

Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Indonesia juga merayakan Hari Kartini pada 21 April, untuk mengenang aktivis wanita Raden Ajeng Kartini. Ini merupakan perayaan terhadap emansipasi perempuan. Peringatan tanggal ini diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia 1938.  Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini sebagai memperingati hari emansipasi wanita nasional. 

Tetapi banyak warga Indonesia yang memprotes dengan berbagai alasan, di antaranya Kartini hanya berjuang di Jepara dan Rembang, Kartini lebih pro-Belanda daripada tokoh wanita seperti Cut Nyak Dien. Karena Soekarno sudah terlanjur menetapkan Hari Kartini maka Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan wanita selain Kartini seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said. Akhirnya Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan wanita alias pahlawan kaum ibu-ibu dan seluruh warga Indonesia menyetujuinya.

Kini umpung kita berada di bulan desember, ada baiknya juga kita memperingati Hari Ibu, yang jatuh setiap, 22 Desember. Selamat Hari Ibu (Penulis wartawan tabloidbijak.com)